Bagi banyak mitra pengemudi Green SM di Indonesia, program pelatihan bersama Korlantas Polri bukan sekadar kegiatan peningkatan kompetensi. Bagi sebagian dari mereka, program ini menjadi momen langka ketika pekerjaan yang dijalani setiap hari terasa semakin dihargai dengan pemahaman yang lebih kuat tentang profesionalisme, tanggung jawab, dan peran penting yang mereka emban.
“Rambu-rambu lalu lintas, lampu merah, kuning, hijau, biru, semuanya sebenarnya sudah akrab,” ujar Dayat sambil tersenyum saat mengenang salah satu sesi pelatihan.
Setelah bertahun-tahun mengemudi di jalanan Jakarta, ia tidak pernah membayangkan akan kembali duduk di ruang kelas untuk mempelajari hal-hal yang selama ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun di akhir program, Dayat menyadari bahwa pelatihan ini memberinya kesempatan untuk melihat kembali praktik berkendara sehari-hari dari sudut pandang yang lebih profesional dan terstruktur. Program ini mengingatkannya bahwa disiplin, kewaspadaan, dan konsistensi tetap menjadi fondasi utama dalam berkendara.
“Lebih ke mengingatkan kembali kenapa hal-hal kecil itu tetap penting dilakukan setiap hari,” katanya.
Di kawasan Indonesia Safety Driving Centre (ISDC), kendaraan bergerak bergantian mengikuti sesi evaluasi mengemudi di bawah pengawasan petugas Korlantas Polri. Sebagian peserta tampak fokus memperhatikan rambu-rambu di depan mereka. Sementara yang lain, sambil menunggu giliran, saling berbagi cerita tentang berbagai situasi yang kerap mereka hadapi di tengah padatnya lalu lintas Jakarta.

Sebagian besar peserta yang mengikuti program ini telah bertahun-tahun berada di balik kemudi. Program ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali pekerjaan yang selama ini mereka jalani setiap hari, mulai dari menghadapi berbagai kondisi lalu lintas hingga menjaga ketenangan saat berkendara berjam-jam di tengah kemacetan.
Melalui kolaborasi antara Green SM dan Korlantas Polri, para mitra pengemudi Green SM mengikuti program pengembangan profesional yang menggabungkan sesi teori dan evaluasi praktik berkendara. Materi yang diberikan mencakup kesadaran berlalu lintas, etika berkendara, pelayanan kepada pelanggan, hingga disiplin profesional.

Program ini juga menjadi bagian dari kerja sama jangka panjang antara Green SM dan Korlantas Polri untuk memperkuat standar profesionalisme serta budaya pelayanan di kalangan pengemudi transportasi daring di Indonesia.
Tahap pertama program melibatkan 300 mitra pengemudi Green SM. Ke depannya, inisiatif ini direncanakan berlangsung secara bertahap dan menjangkau sekitar 7.000 mitra pengemudi Green SM di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam industri transportasi publik, investasi pada kualitas sumber daya manusia telah lama menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih baik. Berbagai studi menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengguna transportasi dapat meningkat secara signifikan ketika profesionalisme, perilaku, dan standar pelayanan pengemudi diperkuat melalui program pengembangan yang terstruktur.
Bagi Rachmat, pelajaran paling berharga yang ia dapatkan justru tidak berkaitan langsung dengan keterampilan teknis mengemudi.
“Yang paling penting itu tetap bisa menjaga emosi di jalan,” ujarnya. “Kalau emosi sudah mengambil alih, konsentrasi bisa hilang.”

Di kota sebesar Jakarta, di mana tekanan lalu lintas dapat berlangsung selama berjam-jam, kemampuan menjaga fokus dan mengendalikan emosi sering kali sama pentingnya dengan kemampuan mengemudi itu sendiri.
Di sudut lain Indonesia Safety Driving Centre (ISDC), di tengah terik matahari dan aktivitas kendaraan yang terus bergerak di area pelatihan, Hani terlihat serius mencatat materi dalam sesi pelayanan pelanggan. Meski pelatihan berlangsung cukup panjang dan cuaca terasa panas, suasana tetap penuh semangat dan antusiasme.
Sebagai salah satu dari sedikit peserta perempuan yang mengikuti program tersebut, Hani mengaku bahwa hal yang paling membekas baginya bukanlah sesi evaluasi mengemudi, melainkan perasaan bahwa profesi yang dijalaninya kini mendapat pengakuan yang lebih besar.
“Menjadi pengemudi akhirnya terasa seperti profesi yang benar-benar diakui,” katanya. “Itu membuat saya lebih percaya diri dengan pekerjaan yang saya lakukan.”
Bagi Hani, profesionalisme tidak hanya soal mengemudi dengan benar. Profesionalisme juga mencakup cara berkomunikasi, menjaga kedisiplinan, serta menciptakan rasa nyaman bagi pelanggan selama perjalanan.
“Semuanya saling berkaitan dengan pekerjaan kami,” tambahnya. “Mulai dari aturan lalu lintas, pelayanan, sampai bagaimana kami memperlakukan pelanggan.”

Bagi Green SM dan Korlantas Polri, program ini bukanlah kegiatan pelatihan yang berhenti pada satu kesempatan. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk terus memperkuat standar profesionalisme dan budaya pelayanan dalam ekosistem mobilitas di Indonesia.
Namun bagi banyak mitra pengemudi yang hadir hari itu, hal paling berharga yang mereka bawa pulang bukanlah sekadar sertifikat.
Melainkan sebuah keyakinan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari kini semakin dipandang dengan keseriusan, penghargaan, dan kebanggaan yang layak sebagai sebuah profesi.




